PRASEMON DALAM SEJARAH MAJAPAHIT

 

PRASEMON DALAM  SEJARAH  MAJAPAHIT

 

Dalam penulisan sejarah tradisi seperti, sejarah, babat, kidung, silsilah, tambo, lontara, prasasti, hikayat, serat, legende, dan lain semacamnya karya orang dulu pada umumnya tidak sunyi dari prasemon atau lambang dan simbul pada nama pelaku, tempat, tahun, dan sebagainya. Dalam mencantumkan tahun selain dengan angka juga lazim menggunakan tahun Saka yang ditulis dengan simbul yang disebut candrasangkala dan suryasangkala.

Banyak pelaku-pelaku sejarah yang dikenal  nama prasemon atau lambangnya dan diantaranya sulit dilacak nama pribadinya. Dan bahkan ada yang mendapat beberapa nama julukan dan prasemon atau lambang. Selain itu banyak keluarga raja Majapahit didepannya menyandang nama Bhre (singkatan dari  bhatara) yaitu nama jabatan kepala daerah atau kerajaan bawahan Majapahit dan keturunannyapun berhak menyandangnya.

Contoh; disebut Bhre Wirabhumi, karena yang bersangkutan pernah menjabat sebagai raja bawahan Majapahit di Wirabhumi. Tetapi mengapa Bhre Wirabhumi yang putra Sang Prabhu Hayamwuruk itu sampai disebut juga sebagai Bhe Daha dan bagaimana pula yang bersangkutan bisa berkedudukan di Pamotan atau Kedhaton Wetan menurut Pararaton dan disebut Balambangan dalam Serat Damarwulan? Mengenai hal ini akan dipaparkan di Bab berikutnya.

Contoh nama tokoh-tokoh pelaku sejarah Majapahit yang mendapat nama prasemon antara lain, Gajah Mada, Gajah Enggon, Gajah Lembana, Narapati Raden Gajah, Mahapati, Kala Gemet, dan sebagainya.. Hingga dewasa ini, sepanjang pengetahuan saya yang sempit belum pernah membaca ada yang menjabarkan makna simbolis dari nama tokoh-tokoh pelaku sejarah Majapahit tersebut. Pada umumnya nama-nama prasemon itu diberikan setelah yang bersangkutan meninggal dunia dan yang memberi prasemon pada umumnya yang menulis karya sejarah. Sehingga acapkali nama tokoh sejarah tertentu yang ditulis dalam Nagarakretagama, dalam Pararaton namanya berbeda, dan sebagainya.

 

GAJAH MADA:

 

Gajah, mengandung makna; kedudukan yang tinggi dan besar setelah kedudukan raja Majapahjit, yaitu kedudukan Patih Amangkubumi.

Mada, artinya sama. (Me-mada-I, artinya; menyamai). Gajah Mada mengandung makna; bahwa pejabat Patih Amangkubumi yang berangkutan memiliki potensi yang sama (besar dan tinggi) sesuai dengan “besar dan tingginya” kedudukan jabatan yang disandangnya.  baik dalam hal pemerintahan, kemiliteran, pertahanan dan sebagainya. Terbukti selama yang bersangkutan menjabat selama dua puluh tiga tahun sejak zaman Tribhuwana Tunggadewi hingga wafat pada tahun 1364, kerajaan Majapahit berkembang menjadi negara yang besar dan disegani oleh kerajaan-kerajaan lain.

 

GAJAH ENGGON:

 

Gajah, mengandung makna yang sama dengan “gajah” di atas. Enggon, artinya tempat “menempati”, mengandung makna; bahwa yang bersangkutan tidak memiliki potensi (kepandaian) seperti pejabat yang diganti sebelumnya. Hanya bisa “ngenggoni”  (menempati) belaka. Terbukti selama yang bersangkutan menjabat selama dua puluh tuju tahun hingga wafat pada tahun 1398 timbul keretakan, antara lain beberapa negara bawahan Majapahit berupaya melepaskan diri sebagai negara berdaulat, dan berhubungan dengan Cina untuk mendapat perlindungan atau pengakuan sebagai negara merdeka. Seperti dilakukan Suwarnabhumi mengirim utusan ke negeri Cina pada tahun 1373 dan l377.

Nagarakretagam pupuh XIII/1 menyatakan  berbagai negara bawahan Majapahit di Sumatra diantaranya Jambi, Palembang, dan Darmasraya mengadakan hubungan dengan Cina. Maharaja Palembang mengirim utusan pada tahun 1374 dan raja Pagaruyng  pada tahun 1375. Bahkan pada tahun 1377 sepeninggal raja Darmasraya, putranya sengaja mohon pengakuan dan pengangkatan kepada Kaisar Cina. Tanpa perlindungan Kaisar Cina ia tak berani naik tahta menggantikan ayahnya., karena takut kepada raja Jawa. Itu salah satu sebab mengapa pada tahun 1377 tentara Jawa menggempur Swarnabhumi.

Timbulnya Kedhaton Wetan (Kerajaan Timur) justru dalam masa Gajah Enggon menjadi Patih Amangkubhumi Majapahit. Demikianlah timbulnya Kedhaton Wetan itu akibat ambisi Sri Wijayarajasa untuk berkuasa, ketika jabatan Patih Amangbhumi dipegang oleh Gajah Enggon, yang menjalankan tugasnya tidak sekuat Gajah Mada.

Meskipun mengetahui bahwa Sri Wijayarajasa berusaha untuk mendirikan Kedhaton Wetan, sebagai saingan Kedhaton Kulon, terbukti Dyah Hayamwuruk tidak mengambil tindakan apapun terhadap Sri Wijayarajasa. Alasan membiarkan tingkah laku Sri Wijayarajasa itu barangkali sebagai berikut. Selama belum timbul gejala untuk memisahkan diri, adanya Kedhaton Wetan belum dianggap membahayakan kesatuan Majapahit. Usaha Sri Wijayarajasa untuk memperoleh pengakuan dari Kaisar Cina mengalami kegagalan. Kedua pada waktu itu Dyah Hayamwuruk sedang dalam kesulitan menghadapi sengketa segi tiga; Majapahit – Suwarnabhumi – Cina. Ketiga, bagaimana pun Sri Wijayarajasa adalah paman/mertua Dyah Hayamwuruk. Untuk mengambil tindakan terhadap Sri Wijayarajasa dalam hal yang demikian Dyah Hayamwuruk pasti agak segan. Terbukti ini adalah suatu kelalaian Dyah Hayamwuruk dalam politik, karena kemudian timbulnya Kedhaton Wetan membawa malapetaka yang sangat parah kepada Majapahit dengan pecahnya perang Paregreg pada tahun 1406. (Prof. Dr. Slamet Muljana 1983, h. 223).

 

GAJAH LEMBANA:

 

Gajah, mengandung makna yang sama dengan “gajah” di atas.

Lembana (ngalembana) artinya, gila hormat. Watak gila hormat (munggah alem, kata Wong Banyuwangi) umumnya lekat dengan sifat ngatok atau penjila pada atasan serta suka marah menyalahkan bawahan untuk menutupi kelemahannya. Bagaimana seorang Patih Amangkubumi menjalankan kewajibannya bila memiliki karakter yang demikian, apalagi setelah Majapahit menjadi semakin lemah akibat ditangni oleh seorang Patih Amangkubumi yang kepandaiannya tidak sesuai dengan besarnya kedudukan yang dijabatnya seperti Gajah Enggon. Terbukti langkah serta tindakan Gajah Lembana tidak dapat meredam niat Pamotan melepaskan diri sebagai negara berdaulat yang disebut Kedhaton Wetan dalam Pararaton. Tindakan serba salah dari kelemahan dan ketidak tegasan Patih Amangkubumi ini dalam Serat Damarwulan l748 diberi prasemon dengan sebutan Patih Lo Gender yang dalam kepemimpinannya meletus perang Paregreg 1406, setelah Patih yang bersangkutan menjabat selama delapan tahun dari tahun l398 – 1406.

Mengenai penjabaran prasemon Lo Gender lihat pada Bab “Penjabaran Prasemon dalam Serat Damarwulan”

NARAPATI RADEN GAJAH

 

Nara, artinya; orang. Pati; rajapati “kematian”. Narapati; orang yang terlibat perbuatan kematian atau pembunuhan. (Perhatikan makna “narapidana!”

Raden; bangsawan, keturunan raja.

Gajah; kedudukan yang tinggi dan besar setelah kedudukan raja , yaitu kedudukan Patih atau kedudukan Bhathara, yaitu raja (kepala daerah} bawahan kerajaan Majapahit.

Narapati Raden Gajah, prasemon yang mengandung makna, bahawa orang yang bersangkutan terlibat melakukan pembunuhan. Yang dibunuh golongan bangsawan atau keturunan raja. Yang mempunyai kedudukan tinggi sebagai “bhatara” arahnya tidak lain ialah Bhre  Wirabhumi.yang menduduki jabatan Bhatara (Raja bahahan Kerajaan Majapahit) di Pamotan.

Memperhatikan penjabaran makna prasemo tersebut, searah dengan politik Majapahit pada waktu itu, bahwa Bhre Wirabhumi yang memberontak di Pamotan (Kedhaton Wetan) tidak diakui sebagai seorang raja. Namun sebatas sebagai Bhathara atau raja bawahan Majapahit.

 

MAHAPATI

 

Mahapati adalah salah seorang pengikut Raden Wijaya (Sri Kertarajasa). Ia ingin sekali diangkat sebagai Patih Majapahit menggantikan Nambi. Sepeninggal Rangga Lawe, Lembu Sora temasuk calon utama sesudah Nambi untuk menjadi patih. Untuk mewujudkan ambisinya yang amat besar sebagai patihMajapaqhit, target pertama diupayakan menyingkirkan Lembu Sora dengan memanfaatkan kecurangan Lembu Sora

Sewaktu Rongga Lawe memberontak terjadi perkelaian antara Rangga Lawe dan Mahisa Anabrang di Sungai Tambak Beras. Lembu Sora yang menyaksikan pergumulan itu dari dekat, menaruh belas kasihan kepada Rangga Lawe. Tak disangka-sangka ia turun kedalam air untuk menusuk Mahisa Anabrang dari belakang. Rangga Lawe lepas dari kepitan, namun telah tewas. Rangga Lawe dan Mahisa Anabrang mati bersama di sungai Tambak Beras tahun 1295. Hal itu disebarluaskan oleh Mahapati dikalangan para pembesar Majapahit. Akibatnya para menteri dan pembesar kerajaan Majapahit bersikap dingiin terhadap Sang Prabhu.

Melihat sikap para pembesar yang demikian itu tidak dibiarkan berlalu oleh Mahapati. Ia segera mendekati Sang Prabhu dan menceritakan bahwa para pembesar itu sesungguhnya keheran-heranan menyaksikan sikap Sang Prabhu terhadap Lembu Sora yang berbuat curang menusuk dari belakang Mahisa Anabrang hingga tewas dan sebagainya.

Mendengar uraian Mahapati, Sang Prabhu meluap marahnya. Ia mengambil keputusan untuk memecat Lembu Sora dan kawan-kawannya dari jabatannya masing-masing.

Menurut undang-undang “Kutaramanawa”  mestinya Lembu Sora harus dihukum mati, namun mengingat jasa-jasa Lembu Sora bai8k kepada pribadi Sang Prabhu, maupun kepada negara, Sang Prabhu mengubah keputusannya dari hukuman mati menjadi hukuman buang di Tulembang.

Setelah surat resmi keputusan Sang Prabhu disampaikan kepada Lembu Sora oleh Mahapati, Lembu Sora mohon pertolongan Mahapati untuk menyampaikan balasannya kepada Sang Prabhu. Mereka bersedia menyerahkan hidup matinya masing-masing kepada Sang Prabhu. Bahkan mereka juga tetap bersedia, sekalipun nasib mereka akan diserahkan kepada Mahisa Taruna “putra Mahisa Anabrang”. Mereka telah sepakat untuk menghadap kepada Sang Prabhju, menyerah tanpa syarat.

Mahapati tidak puas dengan jawaban Lembu Sora. Oleh karena itu surat jawaban tidak disampaikan kepada Sang Prabhu. Bahkan disampaikan bahwa Lembu Sora dan para pengikutnya telah siap untuk mengadakan pemberontakan. Sang Prabhu percaya kepada uraian Mahapati. Oleh karena itu tentara telah disiapkan u7ntuk menghadang Lembu Sora dan para pengikutnya.

Ketika Lembu Sora dan para pengikutnya mendekati pintu gerbang istana, diberi tahu oleh penjaga bahwa Sang Prabhu tidak bersedia menerimanya. Jawab Lembu Soira bahwa ada urusan penting yang segera perlu disampaikan kepada Sang Prabhu. Mereka memaksa untuk masuk. Tentara Majapahit yang telah sipersioapkan, segera menyerbu.

Lembu Sora, Juru Demung, dan Gajah Biru berturut=turut tewas dalam pertempuran tahun 1300.

Sepeninggal Sri Rajasanegara 1309, Sri Jayanegara naik tahta dalam usia 15tahun. Nama abhisekanya Sri Wiralandagopala Sri Sundarapandyadewa Adhiswara, seperti dinyatakan pada prasasti Tuhanyaru bertarikh tahun 1323.

Sewaktu Pranajaya sakit, Pu Naqmbi mohon izin kepada Sang Prabhu untuk kembali ke Lumajang sehubungan ayahnya sakit keras. Sang Prabhu mengijinkan. Sampai  di Ganding Nambi disambut oleh utusan Pranaraja yang membawa berita bahwa Pranaraja sakit keras. Setibanya di Lumajang Pranaraja mangkat. Berita tentang kematian Pranaraja terdengar di istana Majapahit. Sebagai tanda belasungkawa Sri Jayanegara mengutus beberapa orang ke Lumajang diantaranya; Mahapati, Pawagal, Mandana, Emban, Lasem, Jaran Lejong. Beberapa pembesar lainnya datang melawat secara sukarela.

Mahapati memberi nasehat kepada Nambi supaya memperpanjang cutinya berhubung dengan kematian ayahnya. Nambi setuju dan minta kepada Mahapati untuk menyampaikan permohonan perpanjangan cuti kepsada Sang Prabhu. Mahapati menyetujui.

Sesampainya di Majapahit Mahapati memberi laporan kepada Sang Prabhu bahwa Nambi segan kembali ke Majapahit. Ia telah mengadakan persiapan untuk memberontak.

Benteng-benteng pertahanan telah didirikan dan orang-orangnya telah dilatih. Persiapan untuk menyerbu Majapahit telah cukup memuaskan. Ditambah bahwa para pembesar Majapahit yang datang ke Lumajang secara sukarela, seberna bermaksud untuk mengadakan komplotan dengan Nambi. Oleh karena itu sudah wajar jika dicurigai atau dibebaskjan dari tugas.

Sang Prabhu percaya pada laporan Mahapati. Lalu mengirim tentara ke Lumajang dibawah komando Mahapati. Tentara Majapahit berhasil menghancurkan benteng pertahanan di Pejarakan dan Gandaing, terus menyerbu Lumajang.

Pararaton memberi laporan sebagai berikut:

“Datanglah tentara Majapahit, Nambi berangkat kearah selatan. Ganding dirusak Prasastinya dirampas. Nambi terus didesak. Bertempurlah Derpada, Samara, Wirot, , Mada, Wandan, Jangkung, Teguh, terutama Aria Nambi yang ada dipaling muka. Rusak barisanm Majapahit tak dapat diatur lagi. Jabung Tarewes, Lembu Peteng, Ikalikalan Bang, maju menyerang. Nambi tewas bersama pengikutnya. Rabut Buhayabang hancur. Pasukan timur rusak. Lumajang dikalahkan dalam tahun Saka 1238 (= 1316 Masehi).”

Dalam kidung Sorandaka, menyatakan bahwa sehabis perang Lumajang Mahapati diangkat sebagai patih Amangkubumi menggantikan Pu Nambi.

Pada umumnya praswmon pelaku sejarah dalam penulisan sejarah tradisi diberikan setelah yang bersangkutan meninggal. Dan prasemon itu selalu menyangkut karakter atau tingkah laku dari yang bersangkutan menurut kaca-mata (pandangan) dari penulisnya, sebab tidak jarang penulisan sejarah tradisi merupakan puja sastra. Artinya berpihak pada raja yang berkuasa, sehingga yang ditulis cendrung memberi nilai negatif pada yang menentang raja dan sebaliknya selalu memberi sanjungan pada penguasa.

Dengan demikian,  mengapa sehingga pejabat yang bersangkutan sampai mendapat prasemon Mahapati atau Ramapati tersebut? Mahapati, rangkaian dari kata; maha dan pati. Maha, artinya; amat, amat sangat, teramat. Pati, menyangku raja pati (berkaitan dengan masalah kematian). Diketahui, yang bersangkutan mempunyai ambisi yang amat sangat menjadi patih amangkubhumi Majapahit dan karena ambisinya tersebut tidak memikirkan banyaknya rajapati menjadi taruhannya, karena fitnah yang dilakukan. Dan disebut juga Ramapati, karena yang bersangkutan sebagai orang yang berusia tua (rama} masih saja berambisi merebut kedudukan dengan banyak melakukan fitnah yang membawa kematian. Dan tentu saja fitnah itu tidak hanya dilakukan kepada Lembu Sora dan Pu Namni saja, pati masih banyak yang lainnya, Terbukti Pararaton menguraikan , bahwa Ramapati kemudian diketahui sebagai tukang fitnah. Sebagai imbalannya ia ditangkap dan dibunuh. Jenajahnya “cineleng-celeng”, artinya “dicacah-cacah”.

Jika kita percaya kepada uraian Kidung Sorandaka, maka Mahapati itu dapat diindentifikasikan  dengan Dyah Halayudha dalam prasasti Tuhanyaru bertarich 1323.

Pada prasasti Tuhanyaru dinyatakan dengan jelas bahwa Dyah Halayudha adalah Patih Majapahit , sedangkan prasasti ini dikeluarkan oleh Sri Jayanegara yang mengambil nama abhiseka Sri Wiralandagopala, berarikh 1323. Jadi jelas sesudah penundukan Lumajang. Pada lempengan 6 baris 8, jelas terbaca;  rake tuhan mapatih ring Majapahit dyah Halayuda, artinya; Dyah Halayudha adalah Patih Majapahit bergelar rake (Prof. Dr. Slamet Muljana 1983, h. 254).

 

KALA GEMET

 

Kala Gemet, adalah prasemon bagi raja Majapahit Jayanedara sehubungan dengan tingkah lakunya yang tidak senonoh terhadap wanita; para gadis, para istri pejabat bahkan kepada kedua adik perempuannya yang berlainan ibu.

Raden Wijaya Sri Kertarajasa naik tahta pada tahun 1294 dan mengawini ke empat putri Sri Kertanegara yaitu; Tri Bhuwana, Sri Mahadewi, Sri Paduka Jayendradewi, dan Sri Paduka Dyah Gayatri bergelar Rajapadmi, serta punya istri persembahan dari tanah Melayu bernama Dara Petak alias Indreswari yang melahirkan seorang putra sulung yaitu Jayanegara. Dari ke empat putri Sri Kertanegara yang diperistri Dyah Wijaya hanya Dyah Gayatri yang melahirkan dua orang putri yaitu Tribhuwanatunggadewi dan Dyah Wiyat Sri Rajadewi. Jadi keduanya berkakak kepada Jayanegara.

Sepeninggal Dyah Wijaya Sri Kertarajasa tahun 1309 Sri Jayanegara naik tahta dalam usia 15 tahun dan sejak tahun 1295 telah dinobatkan sebagai yuwaraja di Kediri. Kedua adik perempuannya Tribhuwanatunggadewi dan Dyah Wiyat Rajadewi masing-masing dijadikan Bhatara di Kahuripan (Bhe Kahuripan) dan di Daha (Bhre Daha).

Kedua adik perempuannya tidak diperbolehkan kawin, karena akan diperistri sendiri. Para ksatria tidak ada yang datang ke istana. Yang berani datang dibunuh, karena takut kalau-kalau mereka itu menghendaki adiknya.

Raja Jayanegara mendapat prasemon Kala Gemet karena menyangkut tingkah polah yang bersangkutan. Yaitu kala, artinya; jaring atau perangkap. Gemet, artinya; habis (tak tersisa). Mengandung makna;  suks menebar jaring menjebak para wanita untuk dihabisi kehormatannya. Salah seorang pembesar kerajaan Majapahit yang isreinya diganggu ialah Ra Tanca, yaitu seorang tabib kerajaan.

Kebetulan Sri Jayanegara sedang menderita sakit bengkak sehingga tidak bisa keluar. Tanca disuruh memotong bengkak itu. Tanca datang kekamar tidur Sang Prabhu. Bengkak dipotong oleh Tanca. Setelah itu Sang Prabhu ditikam. Gajah Mada yang mengetahui dengan cepat membunuh Ra Tanca. Peristiwa Tanca itu terjadi pada tahun saka bhasmi-bhuta-nampani-ratu, 150 (=1328 Masehi).

 

 

 

 

 

 

 

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s